Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika

Tujuan pendidikan matematika yang ingin dicapai pada intinya adalah agar siswa mampu menggunakan atau menerapkan matematika yang dipelajari  dalam kehidupan sehari-hari dan dalam belajar pengetahuan lain. Dengan belajar matematika diharapkan siswa mampu berfikir kritis, logis, sistematis dan objektif, jujur, disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan, begitu pula dalam berkomunikasi dan mengemukakan gagasan.

Untuk mencapai tujuan pendidikan matematika tersebut sangat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa sehingga pemahaman yang benar tentang makna belajar dengan segala bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan. Seorang pendidik diharapkan mampu memfasilitasi proses belajar matematika dengan memanfaatkan sarana dan prasarana, sumber belajar yang ada  dan metodologi pembelajaran yang bervariasi baik dari pendekatan, strategi, metode, maupun model-model pembelajaran.

Ada banyak pilihan yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik dalam menerapkan pendekatan pembelajaran. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar matematika adalah pendekatan kontekstual.

Kata kunci : pendektan kontekstual, pembelajaran, matematika

A.    Pendahuluan

Untuk meningkatkan kemampuan matematika siswa, perhatiaan pemerintah dan pakar pendidikan matematika diberbagai Negara tidak hanya tertuju kepada kurikulum berbasis kompetensi seperti yang digalakkan di sekolah sekarang ini, bahkan dalam rangka mengatasi rendahnya aktivitas dan hasil belajar matematika. Penggunaan pembelajaran matematika secara kontekstual dan humanistic telah dkembangkan diberbagai Negara.

Di Amerika telah dikembangkan pendekatan pembelajaran yang disebut Contextual Teaching and learning. Pendekatan ini dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam menyelesaikan tugas matematika melalui pembelajaran yang dimulai dengan masalah-masalah kontekstual.

Begitu juga di Belanda telah dikembangkan pendekatan pembelajaran dengan nama Realistic Mathematics Education (RME), dengan pendekatan ini diharapkan peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa dapat dilakukan dengan menyajikan materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari

Sedangkan di Jepang dipopulerkan pendekatan yang dikenal dengan the open-ended approach. Dengan pendekatan ini diharapkan peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa dapat dilakukan dengan memberi soal-soal terbuka yang memiliki banyak jawab benar. Keberhasilan siswa dilihat bukan pada perolehan jawaban akhir tetapi lebih kepada upaya mereka mendapatkan beragam cara memperoleh jawaban dari soal yang diberikan.

Di Singapura, pendekatan pembelajaran di sekolah dikenal dengan nama concrete-victorial-abstract approach. Peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa diperkirakan dapat dilakukan dengan perantaraan benda-benda konkrit dan gambar-gambar yang menarik perhatian siswa.

Leader G, et al. (1995: 78), bahwa di negara Kangguru Australia dipopulerkan pembelajaran matematika melalui pemahaman konteks yang disebut mathematics in context. dengan pendekatan ini diharapkan peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa dapat dilakukan dengan menyajikan materi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari

Sementara itu di Indonesia juga sudah dikembangkan pembelajaran Matematika berbasis kompetensi dengan menerapkan  prinsip-prinsip, yaitu : 1. materi dimulai dari kongret ke konsep/abstrak, dari apa yang telah diketahui siswa dan berkaitan dengan kehidupan nyata, 2. pembelajaran menyenangkan dan efektif, 3. Siswa aktif, kritis dan kreatif serta terjadi perubahan perilaku positif, dan 4. Pembelajaran bermakna dalam kehidupan serta terjadi perubahan perilaku yang positif.

B.     Landasan Teori

Ada beberapa teori ataupun faham yang menjadi acuan pembelajaran matematika yang kontekstual. Konstruktivisme merupakan salah satu acuan pembelajaran yang kontekstual. Menurut Slavin (1997 : 269) menyatakan bahwa menurut konstruktivisme, siswa sendiri yang harus aktif menemukan dan mentransfer atau membangun pengetahuan yang akan menjadi miliknya.  Dalam proses ini siswa membangun pengetahuan yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Kostruktivisme beranggapan bahwa mengajar bukan merupakan kegiatan memindahkan atau mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi peran guru lebih ditekan kan sebagai fasilitator, mediator dan motivator dalam proses pembelajaran.

Selanjutnya aliran Psikologi belajar kognitif menjadi acuan pembelajaran matematika yang kontekstual, yang dikenal dengan teori belajar bermakna. Ausubel (dalam Dahar 1989: 110-112 ) menyatakan bahwa belajar dapat dikategorikan dalam dua dimensi yaitu berhubungan dengan cara pengetahuan disajikan kepada siswa dan cara mengaitkan pengetahuan itu pada struktur kognitif siswa yang telah ada atau dimiliki siswa.

1.       Komponen CTL

Menurut Johnson (dalam Supinah, 2008:6) Komponen-komponen CTL adalah sebagai berikut:

a. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful conections), adalah membuat hubungan antara subyek dengan pengalaman yang bermakna dan makna ini akan memberi alasan apa yang dipelajari. Menghubungkan antara pembelajaran dengan kehidupan nyata siswa sehingga hasilnya akan bermakna (berarti). Ini akan membuat siswa merasakan bahwa belajar penting untuk masa depannya.

b. Melakukan pekerjaan atau kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work), adalah dapat melakukan pekerjaan atau tugas yang sesuai dengan standar kompetensi yang diinginkan.

c. Belajar yang diatur sendiri (self regulated learning), adalah membangun minat individual siswa untuk bekerja sendiri ataupun kelompok dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna dengan mengaitkan antara materi ajar dan konteks kehidupan sehari-hari.

d. Bekerja sama (collaborating), adalah proses pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kelompok, membantu siswa untuk mengerti bagaimana berkomunikasi atau berinteraksi dengan yang lain dan dampak apa yang ditimbulkannya.

e. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking), siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berpikir kritis dan kreatifnya dalam pengumpulan, analisis dan sintesis data, memahami suatu isu atau fakta dan pemecahan masalah.

f. Memelihara atau membina pribadi (nurturing the individual), adalah menjaga atau mempertahankan     kemajuan individu. Hal ini menyangkut pembelajaran yang dapat memotivasi, mendukung, menyemangati, dan memunculkan gairah belajar siswa. Guru harus memberi stimuli yang baik terhadap motivasi belajar siswa dalam lingkungan sekolah. Guru diharap mampu memberi pengaruh baik terhadap lingkungan belajar siswa. Antara guru dan orang tua mempunyai peran yang sama dalam mempengaruhi kemampuan siswa. Pencapaian perkembangan siswa tergantung pada lingkungan sekolah juga pada kepedulian perhatian yang diterima siswa terhadap pembelajaran (termasuk orang tua). Hubungan ini penting dan memberi makna pada pengalaman siswa nantinya didalam kelompok dan dunia kerja.

g. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards), adalah menyiapkan siswa mandiri, produktif dan cepat merespon atau mengikuti perkembangan teknologi dan jaman. Dengan demikian dibutuhkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan sebagai wujud jaminan untuk menjadi orang yang bertanggung jawab, pengambil keputusan yang bijaksana dan karyawan yang memuaskan di masa yang. akan datang.

h. Penilaian yang sesungguhnya (authentic assesment), ditujukan pada motivasi siswa untuk menjadi unggul di era teknologi, penilaian sesungguhnya ini berpusat pada tujuan, melibatkan keterampilan

tangan, penerapan, dan kerja sama serta pemikiran tingkat tinggi yang berulang-ulang. Penilaian itu bertujuan agar para siswa dapat menunjukkan penguasaan dan keahlian yang sesungguhnya dan

kedalaman berpikir dari pengertian, pemahaman, akal budi, kebijaksanaan dan kesepakatan.

2.      Implementasi CTL

Untuk dapat mengimplementasikan pembelajaran kontekstual, guru dalam pembelajarannya mengaitkan  antara materi yang akan diajarkannya dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama CTL yakni sebagai berikut.

  1. Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna jika ia diberi kesempatan untuk bekerja, menemukan, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru (constructivism).

2.   Membentuk group belajar yang saling tergantung (interdependent learning groups) yaitu agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain, maka pembelajaran hendaknya selalu

dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar atau proses pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kelompok.

3. Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry), yaitu agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan hasil mengingat sejumlah fakta).

4. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui pengajuan pertanyaan (questioning). Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan memahami kemampuan berpikir siswa, sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan menunjukkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Bertanya dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan  siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang baru yang didatangkan di kelas.

5.  Pemodelan (modeling), maksudnya dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar, namun demikian guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa atau dapat juga mendatangkan dari luar.

6.  Refleksi (reflection), adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikirkebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu kuncinya adalah bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa.

7.  Penilaian sesungguhnya (authentic assesment), adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran.

Disamping itu, dalam proses belajar mengajar seorang guru dapat menggunakan beberapa pendekatan pengajaran yang menggunakan CTL :

a. Pembelajaran berdasar masalah (problem-based learning (PBL)), yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar melalui berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah dalam rangka memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.

b. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning), yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok pembelajaran kecil dimana siswa bekerjasama untuk mencapai tujuan pembelajaran.

c. Pembelajaran berdasar project (project-based learning), yaitu suatu pendekatan yang yang memperkenankan siswa untuk bekerja mandiri dalam mengkonstruksi atau membangun pembelajarannya (pengetahuan dan keterampilan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s