Model Pembelajaran Kooperatif

           Krismanto 2000 (dalam Shidiq, 2009) menyatakan bahwa pada kegiatan ini sekelompok siswa belajar dengan porsi utamanya mendiskusikan tugas-tugas matematika, dalam arti saling membantu menyelesaikan tugas ataupun memecahkan masalah. Kegiatan kelompok kooperatif terkait dengan banyak pendekatan atau metode, seperti eksperimen, investigasi, eksplorasi, dan pemecahan masalah. Ada 8 jenis kegiatan belajar kooperatif namun yang akan dibahas hanya 6 saja, yaitu :
1.   Circle of Learning
       langkah-langkah Circle of Learning  adalah sebagai berikut :
       a.       Beberapa orang (5 – 6) dengan kemampuan akademik yang bervariasi (mixed abilities group)
                 berkumpul bersama.
       b.      Mereka saling berbagi pendapat dan saling membantu dengan kewajiban setiap anggota harus
                benar-benar memahami jawaban atau penyelesaian tugas yang diberikan kepada kelompok
                tersebut.
       c.       Pertanyaan atau permintaan bantuan kepada guru dilakukan hanya jika mereka sudah
                benar-benar kehabisan akal.
     Hal yang juga dianggap penting dalam model ini adalah adanya saling ketergantungan dalam arti
     positif,adanya interaksi tatap muka di antara anggota, keterlibatan anggota sangatlah diperhitungkan,
     dan selain menggunakan keterampilan pribadi juga mengembangkan keterampilan kelompok.
2.    Grup Penyelidikan (Group Investigation)
      Model ini menyiapkan siswa dengan lingkup studi yang luas dan berbagai pengalaman belajar untuk
      memberikan tekanan pada aktivitas positif siswa. Ada empat karakteristik pada model ini yaitu :
      a.     Kelas dibagi ke dalam sejumlah kelompok (grup).
      b.    Kelompok siswa dihadapkan pada masalah dengan berbagai aspeknya yang dapat meningkatkan
             daya keingintahuan dan daya saling ketergantungan positif di antara mereka.
      c.     Di dalam kelompok, siswa terlibat dalam komunikasi aktif untuk meningkatkan keterampilan cara
             belajar.
      d.    Guru bertindak selaku sumber belajar dan pimpinan tak langsung, memberikan arah dan klarifikasi
             hanya jika diperlukan, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Siswa terlibat dalam setiap tahap kegiatan :
a.       Mengidentifikasi topik dan mengorganisasi diri dalam “kelompok peneliti”,
b.      Merencanakan tugas-tugas yang harus dipelajari,
c.       Melaksanakan investigasi,
d.      Menyiapkan laporan,
e.       Menyampaikan laporan akhir, dan
f.       Mengevaluasi proses dan hasil kegiatan.
3.    Co-op co-op
       Co-op co-op berorientasi pada tugas pembelajaran yang kompleks. Para siswa mengendalikan diri mereka sendiri tentang apa dan bagaimana mempelajari bahan yang ditugaskan. Siswa dalam suatu tim (kelompok) menyusun proyek yang dapat membantu tim lain. Setiap siswa mempunyai topik mini yang harus diselesaikan dan setiap tim memberikan kontribusi yang menunjang tercapainya tujuan kelas. Struktur ini memerlukan cara dan keterampilan bernalar yang cukup tinggi, termasuk menganalisis dan melakukan sintesis bahan yang dipelajari. Langkahnya adalah :
a.       Diskusi kelas untuk seluruh siswa,
b.      Seleksi atau penyusunan tim siswa untuk mempelajari atau menyelesaikan tugas tertentu,
c.       Seleksi tim untuk memilih topik,
d.      Seleksi topik mini (oleh angota kelompok di dalam kelompok/timnya oleh mereka sendiri),
e.       Penyiapan topik mini, presentasi topik mini, persiapan presentasi tim,
f.       Presentasi tim, dan
g.      Evaluasi oleh siswa dengan bimbingan guru.
4.    Jigsaw
Langkah-langkah pada model ini adalah sebagai berikut.
a.       Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan 4 – 6 orang pada setiap kelompok. Setiap
          kelompok oleh Aronson dinamai kelompok jigsaw (gigi gergaji). Pelajaran dibagi dalam beberapa
          bagian sehingga setiap siswa mempelajari salah satu bagian pelajaran tersebut.
b.      Semua siswa dengan bagian pelajaran yang sama belajar bersama dalam sebuah kelompok dan
         dikenal sebagai “counterpart group” atau Kelompok Ahli (KA).
c.       Dalam setiap KA siswa berdiskusi dan mengklarifikasi bahan pelajaran dan menyusun sebuah
          rencana bagaimana cara mereka mengajarkannya kepada teman mereka sendiri.
d.      Jika sudah siap, siswa kembali ke kelompok jigsaw mereka, dan mengajarkan bagian yang dipelajari
         masing-masing kepada temannya dalam kelompok jigsaw tersebut. Hal ini memberikan kemungkinan
         siswa terlibat aktif dalam diskusi dan saling komunikasi baik di dalam grup jigsaw maupun KA.  Keterampilan bekerja dan belajar secara kooperatif dipelajari langsung di dalam kegiatan pada kedua jenis pengelompokan. Siswa juga diberikan motivasi untuk selalu mengevaluasi proses pembelajaran mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s